Recent Posts

Wednesday, 18 May 2016

Unknown

Antara Popularitas dan Pencitraan Ridwan Kamil



Bulan  Juni 2013 menjadi bulan yang bersejarah bagi Kota Bandung. Tampuk pemerintahan Kota Bandung beralih dari Dada Rosada yang masa pemerintahannya habis kepada Ridwan Kamil yang telah terpilih secara demokratis. Saat itu Ridwan Kamil berpasangan dengan Oded M Danial dan berhasil menyingkirkan tujuh pasangan lain dengan perolehan suara sebesar 434.130 suara atau 45,24 persen.

Dari riset Jaringan Suara Indonesia (JSI) yang dikutip dari tempo, faktor kemenangan pasangan Ridwan Kamil dan Oded M Danial adalah lewat sosialisasi dengan dukungan banyak relawan hingga popularitasnya bisa melesat. Dampak sosialisasi melalui twitter juga turut memberikan berpengaruh yang besar. Apalagi Bandung adalah kota dengan pengguna twitter nomor empat terbanyak di dunia.

Selain itu menurut JSI, sosialisasi pasangan usungan PKS dan Gerindra tersebut dinilai aktraktif lewat tayangan video. Model kampanye seperti itu tidak banyak dilakukan calon lain secara gencar. Jelas, media sosial turut memberikan pengaruh yang besar.

Pada masa awal jabatannya sebagai Wali Kota pun, Kang Emil―begitu ia biasa disapa―menginstruksikan kepada seluruh jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Bandung untuk memiliki akun Twitter.

Pada mulanya, kebijakan ini dianggap aneh dan kontraproduktif. Di tengah banyaknya pekerjaan yang harus dituntaskan, ia malah mengeluarkan instruksi tentang akun Twitter ini. Bukan rahasia, sebagian orang memang menganggap jejaring sosial seperti Twitter ini hanya untuk main-main.

Lewat Twitter Kang Emil aktif menyosialisasikan gagasan, kegiatan, serta program-program yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung. Sebut saja misalnya Fundays. Hari-hari menyenangkan (fundays) di Bandung ini merupakan bagian dari program peningkatan indeks kebahagiaan warga kota Bandung. Dimulai dari Senin Gratis Naik Damri (bagi pelajar berseragam, yang kemudian ditambah dengan hari Kamis), Selasa Tanpa Rokok, Rebo Nyunda, Kamis Inggris, hingga Jumat Sepeda.

Hingga kini twitter Ridwan Kamil diikuti oleh 1,16 juta akun. Dan setiap twit yang dibuatnya paling tidak selalu di re-tweet oleh puluhan hingga ribuan followersnya. Sampai-sampai kumpulan kicauannya di twitter dibukukan dengan judul “Twitter Power Ridwan kamil”. Penulisnya adalah Maulana Yudiman, eks wartawan majalah SWA, dan Muhammad Sufyan, seorang dosen komunikasi yang juga eks jurnalis teknologi informasi.

Dikutip dari detik.com, berdasarkan hasil pemantauan Indonesia Indicator (I2), Walikota Bandung Ridwan Kamil tercatat sebagai walikota di Jawa Barat yang paling populer.
Menurut Direktur Komunikasi Indonesia Indicator (I2) Rustika Herlambang, dalam kurun waktu Maret 2014 hingga Maret 2015, Ridwan Kamil, mendapat pemberitaan terbesar dibandingkan walikota ataupun bupati se-Provinsi Jawa Barat, yakni sebanyak 7.669 dari 343 media di seluruh Indonesia, baik nasional maupun lokal.

Seluruh popularitas yang diperoleh sebanding dengan kinerja juga gebrakan-gebrakan baru dalam pemerintahannya. Diantara programnya yakni pembangunan infrastuktur, reformasi dan pelayanan publik, peningkatan index of happiness, fundays, dan PKL. Salah satu upaya perbaikan infrastuktur yakni sejuta biopori, unit reaksi cepat dan bus sekolah. Sedangkan untuk Reformasi dan Pelayanan Publik di antaranya, tempat sampah plastik ramah lingkungan, bansos online, dan lainnya.

Dari semua prestasi dan popularitasnya itu, ada kritikan yang mengatakan bahwa Ridwan Kamil hanya sekedar melakukan pencitraan atas dirinya. Hal itu dilihat dari  seringnya ia mengupload foto dirinya saat melakukan kegiatan di media social.

Terlebih saat pelaksanaan peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) pada bulan April 2015 lalu yang diselenggarakan dengan mewah, menghabiskan dana hingga 10 Miliar. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dinilai memanfaatkan Konferensi Asia Afrika (KAA) sebagai ajang pencitraan politik dirinya. Beberapa pengamat menilai KAA dapat menjadi batu loncatan Ridwan melangkah ke jenjang politik yang lebih tinggi.

Direktur Cyrus Network Hasan Nisbi berpendapat pria yang sukses membangun karier sebagai arsitek tersebut sengaja menjadikan KAA sebagai panggung politik. Menurut pendapatnya, Ridwan memanfaatkan ajang internasional itu untuk menaikkan tingkat popularitasnya di mata publik. Ridwan Kamil pun dinilai terlalu fokus menata pusat kota, membangun taman, sedangkan daerah lainnya dibiarkan. Program yang dijalankan sebagian besar dinilai terjebak dalam kegiatan yang hanya bersifat ceremonial tanpa strategi jangka panjang.

Berbicara tentang pencitraan, lalu apa sebenarnya arti dari pencitraan tersebut? Menurut KBBI, pencitraan berakar kata citra, berarti gambaran diri yg ingin diciptakan oleh seorang tokoh masyarakat.  Sedangkan Frank Jefkins (Soemirat & Adrianto, 2007:114) memberikan definisi atau pengertian citra sebagai kesan seseorang atau individu tentang sesuatu yang muncul sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalamannya, Politik pencitraan adalah politik yang dibuat untuk menggambarkan seseorang, pejabat, partai, ormas, adalah baik atau buruk. Politik pencitraan positif digunakan untuk mengangkat elektibilitas diri dan golongannya sedangkan pencitraan negatif  untuk menjatuhkan musuh/lawannya.

Terlepas dari semua penilaian tentang pencitraan yang dilakukan oleh Ridwan Kamil, tetapi nyatanya beliau sudah membuktikan dengan kerja nyata. Program-programnya bisa dirasakan langsung dampak perubahannya oleh warga. Nilai pencitraan muncul karena popularitas yang disebabkan oleh masifnya perkembangan teknologi di abad modern. Sehingga, apapun yang dilakukan, terlebih Ridwan Kamil sebagai wali kota bisa langsung diketahui oleh massa. Massa memberikan perspektif sendiri atas apa yang dilihatnya.

Pencitraan lebih menjurus kepada kesan yang ingin dibangun tanpa adanya aksi nyata. Jika Ridwan Kamil dinilai melakukan pencitraan, berarti dia telah berhasil memberikan city branding yang bagus untuk Kota Bandung karena telah beraksi nyata bagi perubahan Kota Bandung.

Unknown

Pola Komunikasi Masyarakat Kampung Adat Dukuh

Kampung Adat Dukuh. (Ilustrasi)


Kabupaten Garut memiliki beberapa kampung adat yang masih menjalani pola kehidupan yang sarat nilai-nilai luhur dan sangat teguh memegang adat dan tradisi leluhurnya. Salah satunya adalah Kampung Adat Dukuh yang terletak di Desa Cijambe Kecamatan Cikelet. Di kampung ini, penghuninya hidup jauh dari kemewahan dan menerapkan pola hidup sederhana seperti diwariskan oleh leluhurnya dari generasi ke generasi.

Kampung Dukuh adalah kampung adat yang memiliki keunikan tersendiri.. Masyarakatnya hidup di rumah-rumah panggung yang sederhana. Bangunan berwujud empat persegi panjang dari kayu atau bambu beratap daun ilalang yang dilapis ijuk. Semua bangunan menghadap ke Barat dan Timur. Di sinilah kesahajaan hidup plus tata nilai yang tulus dalam peradaban masih bisa disaksikan.

Secara geografis, Kampung Dukuh terletak pada ketinggian 390 mdpl dengan suhu rata-rata 26 derajat celcius. Secara administratif, kawasan ini terletak di Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, dengan batas-batas sebelah Utara Kampung Palasari (Desa Karangsari), sebelah Selatan Kampung Cibalagung (Desa Cijambe), sebelah Timur Kampung Nangela (Desa Karangsari), dan sebelah Barat Kampung Ciawi (Desa Cijambe).

Kampung Dukuh berjarak 101 km dari ibukota Garut dan 160 km dari Bandung sebagai ibukota provinsi. Untuk pencapaian ke Kampung Dukuh dapat mempergunakan ojeg dari jalan akses dengan biaya Rp 7,000. atau kendaraan microbus dengan tarif Rp 5,000 dari kecamatan Pameungpeuk. Jarak yang ditempuh untuk mencapai Kampung Dukuh adalah 7 km dari ruas jalan Pameungpeuk - Cikelet dengan lebar jalan berkisar 5-6 meter. Perjalanan dilanjutkan dengan jalan menuju kampung Dukuh sepanjang 2 km berupa jalan desa.

Kampung ini berada di lembah Gunung Dukuh yang dekat mata air. Bentuk bangunan seperti disebut di atas merupakan ketentuan adat dan keharusan yang tidak boleh dilanggar. Sehingga bila dilihat dari atas pegunungan, maka pemandangan Kampung Dukuh tampak bagai kotak-kotak mungil yang tertata rapi dan indah.

Di dalam kawasan Kampung Dukuh terdapat 42 rumah dan sebuah bangunan Mesjid. Terdiri dari 40 Kepala keluarga serta jumlah penduduk 172 orang untuk Kampung Dukuh Dalam dan 70 kepala keluarga untuk Kampung Dukuh Luar. Mata pencaharian utama adalah bertani, beternak ayam, bebek, kambing, domba, kerbau, memelihara ikan dan usaha penggilingan padi.

Kampung adat ini memiliki luas 10 ha dengan jumlah penduduk 450 jiwa, yang tergabung ke dalam 90 KK. Terdiri dari dua daerah pemukiman yaitu Dukuh Dalam dan Dukuh Luar. Di sebelah Timur kampung ini terdapat satu pranata lain yang juga dihormati. Yakni sebuah pemakaman yang disebut dengan "Makam Karomah" (tanah larangan). Itulah makam pendiri Kampung Dukuh dan kerap diziarahi masyarakat dari berbagai tempat. Hanya saja, tak sembarangan orang boleh memasukinya. Hari ziarah pun ditentukan hanya Sabtu dengan aturan-aturan khas. Ketiganya dibatasi oleh pagar yang terbuat dari kayu dan bambu.

Saat ini, kedudukan Kampung Dukuh sebagai pusat adat hanya merupakan sebuah kampung dari 18 kampung dalam kapunduhan Ciroyom. Keadaan ini menunjukkan bahwa keberadaan kampung adat sangat lemah sekali dibandingkan kedudukan Desa yang menjalankan sistem administrasi pemerintahan negara.

Keunikan yang terdapat di Kampung Dukuh selain keseragaman struktur dan bentuk arsitektur bangunan pemukimannya adalah sistem komunikasi yang diterapkan. Masyarakat pedesaan yang bercirikan homogen, terbingkai dalam aturan- aturan nilai adat yang kuat dan sedikit tertutup membuat komunikasi di kampung tersebut sangat tergantung pada kehadiran sosok opinion leader. 

Opinion leader/pemimpin opini di kampung ini bergantung pada ketua adat yang akrab dipanggil Mama Uluk. Pemimpin opini begitu sentral bagi keberlangsungan komunikasi di kampung ini. Pemimpin opini ini secara garis besar dianggap sebagai orang yang lebih tahu dan berfungsi sebagai pihak ‘penerjemah’ pesan/informasi yang berasal dari luar maupun di dalam Kampung Dukuh sendiri.

Sistem komunikasi yang berlaku di kampung Dukuh ini sesuai dengan Model Komunikasi Linear. Model ini didasari paradigma stimulus-respon. Masyarakat kampung sebagai komunikan adalah makhluk pasif, menerima apapun yang disampaikan Ketua Adat (komunikator) kepadanya. Ketua Adat aktif menyampaikan pesan, pesan berlangsung searah dan relatif tanpa umpan balik, karena itu disebut linear. Masyarakat dengan patuh akan melakukan yang disampaikan Ketua Adat karena masih memegang teguh adat keyakinan. Selain aktif menyampaikan pesan, tugas lain dari Ketua Adat adalah menjaga keseimbangan alam dan menjadi pengawal norma-norma adat.

Keluar masuknya informasi dalam lingkungan tertumpu pada hubungan personal. Bentuk komunikasi di kampung Dukuh  lebih cenderung kepada komunikasi antar personal dengan menggunakan bahasa Sunda halus. Proses pertukaran informasi di antara seseorang dengan sekurang-kurangnya satu orang atau biasanya diantara dua orang yang dapat langsung diketahui feedbacknya.

Dengan bertambahnya orang yang terlibat dalam komunikasi, menjadi bertambahlah persepsi orang dalam kejadian komunikasi sehingga bertambah kompleks pula komunikasi tersebut. Contoh: ketika akan membangun sebuah rumah di kampung Dukuh, maka dilakukan dengan kerjabakti atau gotong royong yang diinformasikan melalui mulut ke mulut atau rumah ke rumah. Informasi tersebut akan cepat tersebar luas melalui satu orang kepada orang yang lainnya sehingga masyarakat akan turut dalam acara gotong royong tersebut.

Di kampung ini tidak diperkenankan adanya listrik dan barang-barang elektronik. Sebab barang-barang semacam itu dipercaya selain ada manfaatnya, namun mudharatnya lebih besar lagi. Alat makan yang dianjurkan terbuat dari pepohonan dan alam sekitar. Misalnya terbuat dari bambu, batok kelapa dan kayu. Material tersebut dipercaya lebih memberikan manfaat ekonomis dan kesehatan, karena bahan tersebut tidak mudah hancur atau pecah dan dapat menyerap kotoran.

Tapi seiring perkembangan waktu, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi juga lambat laun mempengaruhi sistem yang ada di Kampung Dukuh. Ada kebudayaan yang sudah tidak berlaku lagi di masyarakat Kampung Adat Dukuh, yakni: Dulu tata krama ketika akan masuk ke kampung Adat Dukuh tidak boleh memakai sandal dan ketika hujan tidak boleh memakai payung tetapi untuk sekarang ini hal tersebut sudah tidak berlaku lagi. Entah apa alasannya tetapi hal ini tidak lepas dari perkembangan zaman.

Terjadi perubahan sosial, di Dukuh Landeuh sudah ada warung yang berjualan kebutuhan sehari-hari seperti jajanan anak-anak, garam, minyak tanah, dan lain-lain. Kuncen membolehkan mereka berdagang, namun tidak boleh mencari untung besar dari dagangannya itu dan niatnya adalah membantu warga dalam memenuhi keperluannya. Namun berdagang makanan matang hasil masakan sendiri tetap dilarang. Kadang ada pedagang yang datang dari luar juga. Kalau orang kampung Dukuh ingin berdagang bebas harus di luar Kampung Dukuh karena larangan hanya berlaku di dalam Kampung Dukuh.

Kemajuan teknologi informasi itu juga mempengaruhi sistem komunikasi linear yang berlaku. Pada zaman dulu, penggunaan barang elektronik sangat diharamkan. Tetapi sekarang ada beberapa warga kampung yang sudah memiliki telepon genggam. Bahkan ketua adatnya sendiri pun memiliki telepon genggam, meskipun telepon genggam tersebut tidak memiliki fitur yang canggih. Masyarakat kampung adat menjadi bebas dalam mengakses informasi, tidak terlalu bergantung pada Ketua Adat.

Tapi terlepas dari mulai memudarnya kebudayaan di kampung adaat dukuh akibat pengaruh teknologi, Masyarakat Kampung Dukuh juga mengajarkan kita tentang kesederhanaan, kebersahajaan dan solidaritas sosial. Di tengah-tengah kehidupan yang sangat hedonis, memudarnya apresiasi terhadap nilai-nilai tradisi sosial yang semakin menggejala, dan persaingan hidup yang kadang melunturkan nilai kemanusiaan kita.

Begitu banyak hal yang bisa diambil dari kehidupan masyarakat Kampung Dukuh. Mulai dari hubungan kemasyarakatan, interaksi dengan alam, hingga pegangan bijak dari adat masyarakat Kampung Dukuh. Semua itu tercermin dari budi yang luhur sebuah masyarakat sunda yang masih memegang teguh budayanya. Kita sudah sepatutnya mensyukuri keaneka ragaman budaya yang ada di nusantara. Selayaknya kita menghargai dan menjaga apa yang menjadi pegangan adat masyarakat kampung Dukuh.

Sumber Rujukan:
https://pariwisata.garutkab.go.id



Unknown

Rope Jumping di Jembatan Rajamandala

Salah seorang komunitas Pushing Panda melakukan olahraga ekstrim Rope Jump di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (18/09/2015). Jembatan dengan ketinggian 30 meter dari atas permukaan Sungai Citarum ini sering dijadikan tempat bermain Rope Jump.

Unknown

Menteri Agama Hadiri Dies Natalis ke-48 UIN Bandung

Menteri Agama (tengah), Rektor UIN Bandung (kiri), Ketua Senat (kanan), beserta jajaran anggota Senat menghadiri Sidang Senat Terbuka di Aula Multipurpose, Jum’at (08-04-2016). Sidang Senat Terbuka ini merupakan rangkaian acara puncak Dies Natalis ke 48 UIN Bandung. 

BANDUNG – Puncak acara Dies Natalis ke-48 UIN Bandung diisi oleh Sidang Senat Terbuka di Aula Multipurpose, Jumat (08/04/2016). Acara tersebut dihadiri oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Dalam acara Sidang Senat Terbuka tersebut, hadir pula Rektor UIN Bandung Mahmud, Ketua Senat Universitas beserta anggotanya.

Rektor UIN Bandung Mahmud  berujar setelah perubahan nama dari IAIN menjadi UIN pada tanggal 10 Oktober 2005, UIN Bandung  tengah menyejajarkan diri dengan perguruan tinggi lain, baik di level Nasional maupun Internasional demi mencapai cita-citanya menjadi Universitas Islam Negeri yang unggul dan kompetitif di ASEAN pada tahun 2025.

“Kondisi UIN Bandung sekarang menurut saya cenderung lebih baik. Ke depan kita berharap bahwa UIN Bandung bukan sekedar ada, tetapi terus mengada,” ujar Mahmud dalam sambutan pada Dies Natalis pertama di kepemimpinannya, Jum’at (08/04/2016).

Selain itu, Mahmud memaparkan ada tiga isu strategis yang sedang digarap UIN Bandung yaitu membangun infrasruktur modern, meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan melestarikan nilai-nilai filosofis wahyu ilmu dalam bingkai akhlak al karimah.

“Untuk itu, dukungan dari semua pihak sangat kami nantikan. Kami ini tidak ada apa-apanya jika belum melibatkan semua sivitas akademik menjadi kita yang sama-sama merasa sebagai bagian dari UIN Bandung,” harap Mahmud.

Menegaskan harapan Rektor, Lukman Hakim Saifuddin mengatakan untuk bisa sejajar dengan universitas lain, UIN Bandung perlu mengembangkan Ilmu Sains dan Teknologi selain dari Ilmu Agama dan Sosial.

“Perbedaan UIN dengan Universitas lain adalah komitmennya mengembangkan Fakultas Agama yang telah menjadi trademark sejak memiliki nama IAIN. Tetapi tak boleh jadi universitas yang gagal dalam mengembangkan ilmu sains dan teknologi juga” ujar Lukman.

Unknown

De Gea Pemain Terbaik Manchester United Maret 2016

David de Gea

David De Gea terpilih menjadi Player of The Month Manchester United untuk bulan Maret 2016. Kiper nomor wahid klub Manchester United tersebut mendapatkan suara sebanyak 72 persen dalam polling di twitter resmi klub Manchester United.

Pengumuman anugerah penghargaan pemain terbaik tersebut diumumkan dalam laman twitter resmi Manchester United, Selasa (29/03).  De Gea pun mengungkapkan rasa terimakasih kepada pendukungnya lewan akun twitter pribadinya. “Thank you all! Gracias a todos!,” ungkapnya dalam dua bahasa.

Kiper asal Spanyol tersebut mengungguli nominator lain yakni, Anthony Martial yang menduduki peringkat kedua dan Chris Smalling di posisi ketiga.

Ini adalah penghargaan pertama bagi De Gea musim ini untuk penghargaan Manchester United's Player of the Month. Sebelumnya, dia memperoleh anugerah Sir Matt Busby Player of the Year 2014 dan 2015.
Penghargaan tersebut pantas diterima De Gea. Dia memang tampil tangguh dan gawang United pun menjadi sulit dibobol dalam bulan-bulan terakhir. Termasuk penampilan hebatnya saat United menang dalam derby Manchester.

Unknown

Trailer Film AADC 2 Resmi Dirilis



Terpaut jarak 14 tahun dengan sekuel film pertamanya, setelah sekian lama dinanti akhirnya Miles Films merilis trailer pertama film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2. Trailer yang dirilis via akun Youtube Miles Films tersebut dibuka dengan salah satu nomor dalam soundtrack film AADC pertama.

Film AADC sekuel kedua ini akan tayang serentak di tiga negara yaitu Indonesia. Malaysia dan Singapura pada tanggal 28 April 2016. Adegan diawali ketika sosok Rangga yang diperankan oleh Nicholas Saputra tengah duduk sambil memandang temaram lampu di malam hari. Lalu, adegan kedua menampilkan sosok Cinta yang diperankan Dian Sastrowardoyo berjalan di pesisir pantai dengan laut sebagai latarnya.

Ada pula satu adegan ketika Rangga dan Cinta saling bercengkerama dan melempar senyum.
Namun, tampak pula, konflik keduanya ketika Cinta pergi meninggalkan Rangga dengan tergesa-gesa.

Selama trailer tersebut, publik disuguhkan oleh puisi yang dinarasikan oleh sosok Rangga.
"Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini. Dipisah kata-kata, begitu pula rindu. Lihat tanda tanya itu. Jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi," demikian cuplikan puisi romantis tersebut.


Berikut adalah cuplikan trailer film AADC 2

Unknown

Rektor Ubah Nama Lima Gedung UIN Bandung

Gedung Rektorat UIN Bandung. (Ilustrasi)

BANDUNG – Ada inovasi baru yang dilakukan oleh Rektor UIN Bandung Mahmud di acara puncak Dies Natalis ke 48. Dalam acara yang dilaksanakan di Aula Multipupose ini turut diresmikan  perubahan nama gedung di lingkungan UIN Bandung, Jum’at (08/04/2016).

Peresmian nama gedung tersebut ditandai dengan penandatangan prasasti oleh Mentri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin di Aula Multipurpose, Jum’at (08-04-2016). Peresmian jugadidampingi Rektor UIN Bandung dan disaksikan oleh ratusan sivitas akademik yang memenuhi aula.

Berdasarkan surat keputusan rektor tentang perubahan nama gedung di lingkungan UIN Bandung, ada lima buah gedung yang diberi nama baru berdasarkan nama-nama rektor UIN Bandung terdahulu.

Adapun gedung yang berubah nama itu antara lain Gedung Aula Multipurpose menjadi Gedung Anwar Musaddad, Gedung Aula lama menjadi menjadi Gedung Abjan Soelaeman, Gedung Laboratorium Terpadu menjadi Gedung Solahudin Sanusi, Gedung Al Jami’ah menjadi Gedung O Djauharudin AR, dan Gedung Perpustakaan menjadi Gedung Rachmat Djatnika.

Rektor UIN Bandung, Mahmud menuturkan inovasi tiada henti akan berdampak pada kualitas kelembagaan UIN Bandung. Tata kelola kelembagaan diharapkan akan lebih modern, terbuka dan akuntabel sehingga pada gilirannya akan terwujud kampus yang mandiri secara finansial dan otonom secara akademik.

“Dies ke 48 ini menjadi momentum untuk mulai kerjasama dan sama-sama membangun UIN Bandung. Inovasi menunjukkan bahwa kita punya karya-karya alternatif dan daya kreatif,” tandasnya.