Recent Posts

Showing posts with label Feature. Show all posts
Showing posts with label Feature. Show all posts

Thursday, 19 May 2016

Unknown

Rumah Kita, Wadah Kreativitas Bagi Anak-Anak

Sejumlah relawan pengajar dan anggota komunitas rumah kita sedang melakukan kegiatan di halaman Sekretariat Rumah Kita, Selasa (21/10)

BANDUNG -- Sore itu, hujan mengguyur Cibiru, anak-anak di teras Rumah Kita pun ikut merasakan derasnya tumpahan air di angkasa itu. Tubuh-tubuh ceking duduk manis dengan senyum yang tersungging di bibir mereka. Sesekali mata mereka berkedip dan berkaca-kaca. “Haha..haha..” tawa renyah mereka menggelitik siapapun yang mendengarnya. Sekitar pukul 16.00 WIB, tawa mereka terhenti. Mereka mengeluarkan alat tulis di dalam tas masing-masing dan bersiap untuk belajar, Rabu (19/11).

Anak-anak tersebut adalah anggota dari Komunitas Rumah Kita. Rumah Kita yang didirikan oleh Pradi, Mahasiswa jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini didirikan pada tanggal 20 Maret 2013, yang bertujuan untuk memberikan ruang kepada anak-anak untuk menikmati masa kecilnya dengan mengajarkan membaca, mengaji, menari, memainkan alat musik tradisional, atau hanya bermain bersama. 

Kegiatan Rumah Kita tidak hanya dilaksanakan di sekretariat Rumah Kita, tapi juga sering diundang oleh UKM di kampus untuk sekedar silaturahmi, mengunjungi museum-museum, dan sempat melaksanakan buka puasa bersama di Kampus Itenas saat bulan Ramadhan.

“Alasan mengapa dinamai rumah kita, karena rumah itu bangunan, dan karena semuanya berpengaruh maka disebut rumah kita. Bisa saja rumah kami, tapi kata ‘kita’ terdengar lebih akrab,” tutur Ratno Nitidisastro, Sekretaris Umum Rumah Kita saat ditemui wartawan di sekretariat Rumah Kita, Rabu (19/11)

Rumah kita awalnya tidak mempunyai tempat yang tetap untuk melakukan kegiatan. Mereka sering berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, hingga akhirnya mempunyai sekretariat sendiri, yang diberikan oleh masyarakat Kampung Manisi, Kelurahan Cipadung Kecamatan Cibiru. 

Rumah Kita tidak hanya menjalin kedekatan dengan anak-anaknya saja, tapi juga dengan masyarakat. Respon yang baik dari masyarakat ditunjukkan dengan memberikan sekretariat tetap, menyuruh anak-anaknya untuk bermain di Rumah Kita saja daripada di tempat lain, juga dengan bantuan-bantuan lainnya.

“Rumah Kita tidak membedakan anak-anaknya, entah itu anak yang bersekolah atau tidak, yang mempunyai banyak materi atau tidak, bahkan yang bekerja atau tidak,” ujar Ratno, pria yang akrab disapa En ini.

Hingga saat ini tercatat ada lebih dari 50 anak yang belajar di Rumah Kita. Namun tidak semua hadir setiap hari, dikarenakan kendala cuaca dan Jadwal Sekolah yang berbeda. Para relawan pun mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka, dan minat yang digemari oleh anak-anak.

Saat ini Komunitas Rumah Kita sedang menggarap sebuah kegiatan pementasan seni, yang diberi nama “Mentari”, acara ini diharapkan menjadi tolak ukur dari keberhasilan rumah kita. Para relawan pengajar pun berharap Rumah Kita kelak ada di setiap Desa hingga bisa mencerdaskan anak-anak di daerah lain.

Tuesday, 17 May 2016

Unknown

DPR: Oase di Tengah Terik Panas Kampus UIN Bandung

Sejumlah Mahasiswa berdiskusi dibawah pohon rindang (DPR) UIN Bandung

Pada siang bolong itu cuaca terik, matahari ganas menyengat siapapun yang sedang beraktifitas di luar ruangan. Sapuan debu dan asap dari hilir mudik kendaraan yang mencari tempat parkir menambah suasana gersang di Kampus UIN Bandung.

Tapi, pemandangan berbeda terlihat di salah satu pojok kampus. Beberapa kelompok mahasiswa berkumpul dibawah rindangnya pohon besar yang menghiasi area ini. Hembusan semilir angin dan sejuknya udara dari pohon membuat tempat ini sebagai tempat berteduh dikala cuaca panas ditengah gersangnya kampus.

DPR, ya, begitulah tempat ini ramai dikenal. Eits, tunggu dulu. Tapi ini bukan singkatan dari ‘Dewan Perwakilan Rakyat’ seperti di Ibukota sana, melainkan ‘Dibawah pohon Rindang’. Tempat ini dipanggil demikian karena ada  tiga buah pohon beringin besar yang tumbuh. Setiap hari, tempat ini laris dijadikan sebagai tempat nongkrong Mahasiswa.

Ditengah hiruk pikuk aktifitas DPR siang itu, Bebeh dan seorang temannya memilih duduk terpisah dari keramaian. Dengan mengenakan kaus oblong dan celana jeans yang robek di bagian lutut, lelaki berambut panjang ini asyik menyeruput kopi di salah satu sudut area DPR.

Bebeh merupakan salah satu penghuni langganan di DPR. “Hampir setiap hari kesini. Enak, bisa hahahihi”, tuturnya. Temannya tersenyum meng-amin¬-kan perkataan Bebeh. “Bukan saya aja, tiap hari ratusan mahasiswa menjadikan DPR sebagai tempat berkumpul,” tambahnya.

DPR ruang terbuka publik nyaman di Kampus 

Tidak adanya ruang terbuka publik lain yang nyaman dan teduh di kampus menjadi alasan mengapa DPR menjadi tempat favorit untuk berkumpul.

Setiap hari ada saja mahasiswa yang berkumpul di DPR untuk berdiskusi, berorasi, membuka stand, rapat, atapun sekedar ngobrol melepas penat. Bahkan tak jarang banyak yang bertemu kangen dengan kawan lama hingga bertemu pandang dengan kekasih hati terjadi disini.  DPR selalu mempunyai cerita dan kenangan tersendiri sebagai tempat romantis di tengah gersangnya kampus.

Tapi, DPR sebagai satu-satunya ruang terbuka publik yang nyaman mulai terancam. Lahan tempat berkumpul mahasiswa ini perlahan beralih fungsi sebagai lahan parkir. “Sekarang gak serame dulu, gak ada diskusi lagi disini. Karena birokrasi gak bener, DPR malah jadi tempat parkir,” keluh Bebeh. Pandangannya lurus menatap jejeran motor yang parkir dengan manis di bawah pohon.

Memang semenjak pemberlakuan sistem parkir di kampus, banyak lahan tempat berkumpul mahasiswa yang beralih fungsi menjadi tempat parkir. Termasuk DPR yang tak luput dicaplok untuk dijadikan lahan parkir. Gerombolan mahasiswa yang biasanya berdiskusi mulai digantikan oleh deretan kendaraan. Ah, miris memang.

“Padahal DPR merupakan alternatif tempat nyaman di kampus. Sekarang bagaimana bisa nyaman jika tempatnya gersang. Sebelum menerapkan ilmu, harus nyaman dulu,” tambah pria semester 8 Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris ini.

DPR sayang, DPR malang. Kini kondisinya tak seindah dahulu kala. Pada tahun 2013 lalu pihak kampus bahkan sudah menebang salah satu pohon tua di DPR. Entah, di tahun-tahun mendatang akankah masih banyak pohon rindang yang menghiasi dan mahasiswa yang menggunakan DPR sebagai  lahan nyaman untuk beraktifitas.

“Kembalikan mahasiswa kesini. Seperti dulu,” kata Bebeh, seperti bermimpi. []